Home Umum IPB University Dorong Agroforestri dan Penyadapan Pinus Berkelanjutan di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi

IPB University Dorong Agroforestri dan Penyadapan Pinus Berkelanjutan di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi

78
0
SHARE
IPB University Dorong Agroforestri dan Penyadapan Pinus Berkelanjutan di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi

SUKABUMI — IPB University terus mendorong pengelolaan kawasan hutan yang tidak hanya berorientasi pada kelestarian lingkungan, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) 2026 yang dilaksanakan di kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW), Sukabumi, Jawa Barat.

Program ini berfokus pada penguatan pengelolaan lahan berbasis agroforestri sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai teknik penyadapan getah pinus yang tepat, aman bagi kesehatan pohon, ramah lingkungan, serta mampu meningkatkan kualitas hasil hutan bukan kayu (HHBK).

Berdasarkan pendataan terhadap 50 penggarap lahan di kawasan HPGW, praktik agroforestri telah menjadi bagian penting dalam menopang aktivitas ekonomi masyarakat. Sejumlah komoditas dikembangkan warga, di antaranya kopi yang dibudidayakan oleh 24 penggarap, pisang, kapulaga jawa atau kapol, hingga singkong.

Ketua Tim Pelaksana Dospulkam IPB University, Prof. Dr. Ir. Dede Hermawan, M.Sc., mengatakan integrasi antara tanaman kehutanan dan pertanian menjadi salah satu kunci dalam membangun kemandirian pangan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar hutan.

“Agroforestri bukan hanya mengenai tanaman yang tumbuh di lahan, tetapi juga mengenai bagaimana hutan dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat tanpa mengabaikan fungsi ekologisnya,” ujar Prof. Dede Hermawan.

Edukasi Teknik Penyadapan Getah Pinus

Selain pengembangan agroforestri, potensi HHBK berupa getah pinus juga menjadi sumber pendapatan bagi sedikitnya 30 warga di sekitar kawasan HPGW.

Namun, keberlanjutan produksi getah pinus sangat dipengaruhi oleh teknik penyadapan yang diterapkan oleh para petani. Karena itu, melalui Program Dospulkam 2026, tim akademisi IPB University memberikan edukasi dan pendampingan teknis kepada masyarakat mengenai metode penyadapan yang tepat.

Para penyadap diberikan pemahaman mengenai teknik pembuatan luka sadap yang terukur dan ramah lingkungan. Teknik tersebut diharapkan dapat menjaga kesehatan tegakan pohon pinus sehingga tidak mengalami kerusakan secara berlebihan.

Di sisi lain, metode penyadapan yang tepat juga dapat menghasilkan getah dengan tingkat pengotor lebih rendah sehingga kualitasnya meningkat dan memiliki nilai jual lebih baik.

Narasumber Tim IPB University, Dr. Ir. Gunawan Santosa, MS, menjelaskan bahwa kualitas getah menjadi salah satu faktor penting yang menentukan harga serta daya serap produk tersebut di pasar industri pascapanen.

“Penyadapan getah pinus tidak bisa dilakukan sembarangan. Melalui teknik penyadapan yang tepat dan ramah lingkungan, pohon pinus tetap sehat dan dapat diproduksi secara berkelanjutan. Yang tidak kalah penting, getah yang dihasilkan jauh lebih bersih dan berkualitas tinggi, sehingga nilainya meningkat dan sangat laku di pasaran,” jelasnya.

Menurutnya, diversifikasi usaha juga penting dilakukan masyarakat sekitar hutan. Pengembangan agroforestri yang dipadukan dengan penyadapan getah pinus berkualitas dapat menjadi strategi untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap satu sumber pendapatan.

Masyarakat Dorong Dukungan Berkelanjutan

Dalam kegiatan tersebut, tim IPB University juga melakukan pendataan serta menyerap aspirasi para penggarap lahan di kawasan HPGW.

Masyarakat berharap program pendampingan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat dilanjutkan melalui dukungan penyediaan bibit unggul, pupuk, pelatihan pascapanen, penguatan kelembagaan, hingga membuka akses pasar yang lebih luas.

Anggota tim peneliti IPB University, Irsya Mutjia Muthmainah, S.Hut., M.Si., menegaskan komitmen HPGW untuk terus membangun kolaborasi dengan masyarakat sekitar kawasan hutan.

“HPGW berkomitmen untuk terus mengembangkan kolaborasi dengan masyarakat sekitar. Melalui pendampingan dan pelatihan teknis penyadapan serta pengolahan hasil komoditas, kami menjadikan HPGW sebagai ruang pembelajaran bersama,” tuturnya.

Ia berharap peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dapat mendorong kualitas produk lokal semakin baik dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi, tanpa mengesampingkan aspek kelestarian hutan.

Sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) yang dikelola oleh Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University, HPGW terus diarahkan menjadi kawasan yang lestari, produktif dan edukatif.

Melalui pengembangan agroforestri, peningkatan kualitas HHBK, serta pendampingan masyarakat secara berkelanjutan, HPGW diharapkan tidak hanya menjadi kawasan pendidikan dan penelitian, tetapi juga mampu menjadi salah satu penggerak peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan.

Wartawan: M. Afnan

Redaktur: Herman Ahong